Dari Balik Tenda Parade Pangan Nusantara 2014

Parade Pangan Nusantara 2014 memang telah berakhir. Sejak hari Selasa tanggal 14 Januari menjelang pembukaan acara ini, suhu di Malang seperti lepas dari musim hujan. Panas! Mungkin awannya direkayasa agar acara ini sukses, atau mungkin awannya lari ke Jakarta semua? 😐

Tiadanya awan mendung di Malang cukup membantu Parade Pangan Nusantara 2014 yang lokasinya di lapangan Rampal yang luas, terlindung dari becek-becek yang pastinya akan mengganggu kenyamanan pengunjung. Pemecahan rekor MURI tempe terbesar dan acara goreng tempe sampai 69.000 pieces itu pun lancar digelar. Sejenak skrinsut dari acara tersebut, bisa dilihat di postingan sebelumnya di sini.

Ada satu yang saya baru tau di balik acara Parade Pangan Nusantara 2014 ini. Mas Daddiw aka Rizal yang sering main helikopter di rampal sempat mendengar perbincangan personil TNI AD yang sedang mempersiapkan lapangan untuk parade ini.

Sedikit cerita pada saat spanduk acara ini terbentang dan acara ini masih tahap persiapan.. mendengar sebuah conversation antara seorang warga (W) dan anggota (A) TNI yang ikut mempersiapkan acara tsb.
W: acara ginian koq yang ngadain TNI sih, apa ga salah..?
A: anda pikir pertahanan negara itu cuman modal senjata canggih dan personel..? kalo iya, berarti anda masih sekelas anak sekolah yang mbandingkan2 mesin perang
W: lah koq iso?
A: dengan kondisi negara yang serba impor dan ketergantungan gini, sampe beras aja impor, kalo ada apa2 dan kena blokade ato embargo ato blok2an, apa sampean ndak kelaparan..? berapa lama kita bisa bertahan kalo ndak ada makanan..? di sini TNI membangun kesadaran rakyat biar punya niat untuk bebas impor pangan.. yang konsumsi ya ndak konsumsi pangan impor, yang produksi ya terus tekat produksi produksi lokal dan ndak nyerah diserang bahan pangan impor…
W: oiyo yo…

Tujuan dari acara ini memang tidak tersebarluaskan dengan baik. Masyarakat banyak yang menggerutu, “Parade pangan kok isinya telo, mana kulinernya?”. 🙂

Persepsi inilah yang seharusnya telah dibentuk dengan pemahaman bahwa apa yang kita konsumsi sebenarnya sudah jauh dari pangan asli Indonesia sebelum masyarakat mengunjungi area Parade Pangan Nusantara. Dan di acara ini, TNI ingin mengangkat kembali kesadaran masyarakat agar kita bisa bertahan dengan bahan pangan milik Indonesia sendiri jika suatu saat terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Saya jadi ingat kampanye dari salah satu departemen urusan pangan yang pernah saya kerjakan. Indonesia itu kaya bahan pangan yang bukan cuma beras. Ada telo, ganyong, dan lain sebagainya yang sebenarnya juga jauh lebih sehat dari beras putih yang biasa kita konsumsi. Saya cantumkan beberapa artikelnya di sini ya.

8 Sumber Karbohidrat yang Lebih Sehat Dari Nasi
10 Makanan Pokok Pengganti Nasi
10 Resep Variasi Olahan Labu Kuning
4 Cara Sehat Mengolah Singkong dan Ubi

Kalau bukan kita yang mengangkat sendiri bahan pangan kekayaan bumi Indonesia, siapa lagi? Negara kita ini kaya. Sayang, kita suka berlagak sok kaya dengan makan makanan impor. Iya, termasuk saya. Dengan wawasan baru yang saya dapat dari acara kemarin, saya jadi ingin mengubah gaya hidup ini lebih baik lagi.

Kamu, ingin hidup sehat ngga?

Sharing after reading, yes?

6 Comments

  • mendengarkan sambutan pas acara pembukaan itu ada manfaatnya juga, walo agak membosankan
    yang awalnya punya keheranan yang sama “iki opo hubungane tentara mbek pekan pangan?” tapi akhirnya tercerahkan saat mendengar sambutan dari gubernur dan pangab

    “Oooo… ngono ta ceritane” sambil mengangguk-angguk, kemudian berdua berjalan mengelilini venue

  • “Apa yang kita konsumsi sebenarnya sudah jauh dari pangan asli Indonesia” <— konsumsi yang mana dulu nih…kalo semacam fast food, restoran italy, makanan kemasan dan lain2 mungkin memang iya. Tapi masih banyak yg suka sego pecel, lalapan, sayur lodeh dan tempe goreng untuk makanan pokok sehari2. Jadi acara kemarin kayanya akan lebih greget lagi kalo ditambah kuliner-nya. Kuliner khas daerah2 di Indonesia tentunya.

    • Saya rasa sebenarnya setiap stan daerah kemarin juga sudah membawa kuliner khasnya dalam bentuk kemasan ya, bukan yang dalam bentuk makan di tempat.

  • Sayang banget, acara deket rumah. Tapi pas ada urusan ke sby :((((
    Itu kan ada pemecahan rekor ya, dibagiin2 gratis nda 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *