Tradisi Hari Raya di Kampung Baru Nengbiker

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya berlebaran dengan keluarga suami. Cuman nyebrang kali doang kok dari rumah saya di sana :D. Tapi rasanya berbeda karena saya ngga bareng mama papa, kakak dan adik, di rumah sana.

Selesai membersihkan rumah dan menyiapkan suguhan lebaran, tepat jam 6 rombongan bergerak ke Lapangan Rampal untuk salat id bersama. Dengan kepanitiaan dari tentara-tentara muda ini, prosesi salat id berlangsung tertib dan teratur. Setelah bertahun-tahun di rumah sana, suasana lebaran kali ini sangat berbeda.

Kejutan saya dapatkan ketika kembali ke rumah dan orang-orang sekampung suami sudah berjejer-jejer di depan rumah. What a … Takjub saya segera melompat turun dari mobil bersama mama mertua. Ternyata ini tradisinya, siapa yang sudah sampai rumah duluan segera membentuk barisan untuk bersalaman.

Tua muda, anak kecil dan yang sepuh berkursi roda, terlihat riang gembira menyambut kedatangan tetangganya yang baru saja salat id bersama-sama. Saya. Takjub.

Belum selesai rombongan bersalaman, ternyata langkah selanjutnya adalah menyerbu rumah mama mertua. Heaaaaa.. Nasi kuning dan Ayam Lodho di rumah mama memang salah satu tradisi di kampung ini. *singsingkan lengan baju* *mari mencuci piring*.

Begitulah tradisi di sini. Setelah dua hari ribet dengan berbagai tamu, baru bisa bercerita di blog tentang yang baru. Selamat Idul Fitri! Mohon maaf lahir dan batin.

Bagaimana tradisimu?

Sharing after reading, yes?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *