Menumpulkan Rasa

Dalam waktu yang bersamaan beberapa teman kehilangan ibu, bapak, orang tua yang disayangi. Ada pula yang kehilangan keponakan tercinta. Saya beruntung masih dikelilingi orang-orang terdekat saya.

Dan karena merasa beruntung itu saya kadang susah menempatkan diri, berduka cita tentu iya, karena kehilangan itu sangat sangat tidak bisa digambarkan rasanya. Tidak lagi melihat mereka, suara, canda, dan sayang, apa lagi yang kurang? Ya, tidak ada kehadiran. Saya susah untuk bisa duka dalam, saya terbiasa … menumpulkan rasa.

Suatu saat saya akan mengalami apa yang dirasakan mereka. Tidak menutup kemungkinan saya duluan yang akan meninggalkan orang tercinta. Trus apa yang bisa dilakukan? Tidak ada bukan? Karena semua sudah ada di jalan takdir-Nya. Yang saya bisa lakukan adalah menutup ‘rasa duka’ dan mengatakan bahwa yang bisa kita lakukan hanya mendoakan. Ngga mungkin kita akan menggantikan tempat mereka. Doa anak yang sholeh akan melapangkan jalan orang tua. Itu saja.

Tidak usah berduka berlebihan. Hanya akan menyusahkan jalan kita ke depan yang ditinggalkan.

Sounds so pitty. But yeah it’s me. Saya tidak tau nanti bagaimana saya jika ada di posisi mereka yang kehilangan. Yang saya bisa hanya ini. Percaya bahwa jika itu yang ditentukan, maka jalannya ya begitu. Dan kembali saya diam. Menumpulkan rasa.

 

“(Yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.” (Al-Quran, dari Surah Al-Baqarah, ayat 156)

Turut berduka cita bagi mereka yang kehilangan. Saya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk semua.

 

 

 

Sharing after reading, yes?

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *