Unsuccessful Hip Place

Beberapa waktu lalu jagad resto reviewer cukup heboh dengan pro kontra terhadap sebuah restoran nasi goreng. Sang penulis menuliskan fakta dan perasaan yang dia dapatkan ketika berkunjung ke restoran tersebut. Negatif tentu kalau sampai heboh seperti itu. Bagi kita konsumen adalah hak untuk menuliskan apa adanya baik rasa, kualitas, harga, maupun pelayanan yang didapat selama icip-icip tersebut.

Dan apa yang ‘semestinya’ dilakukan pemilik resto tersebut?

Saya berpendapat, semestinya kedua pihak harus sama-sama arif dan lapang dada. Si penulis tidak menuliskan kata-kata yang ngga enak, dan sepertinya kita lebih bisa menerima kalimat sarkastis daripada hujatan langsung? Itu sih yang biasanya aku baca selama ini. Dan bagi pemilik resto, semestinya menerima kritik yang membangun demi pelayanan restonya. Percuma rasa enak tapi pelayanan tidak baik. Karena itu yang akan mempengaruhi cita rasa psikologis konsumen.

Kadang saya jadi serba salah juga kalau ngereview tempat yang saat saya kunjungi lagi enak tapi pas dikunjungi orang lain ngga enak. Lagi-lagi karena kita berhubungan dengan manusia kan? Cita rasa, selera, keinginannya beda. Saya ngga bisa nyalahin yang ngunjungin, juga ngga bisa nyalahin yang punya resto, karena kita punya pemikiran sendiri-sendiri.

Seminggu ini, 3 review saya jadi bumerang :). Sushi yang saya sukai-dan-kesana-3kali-seminggu ngga disukai sama kakak saya, murni karena lidahnya ngga bisa menerima rasa baru masakan Jepang. Empal cobek yang saya sukai ngga disukai teman-teman saya karena pelayanannya LAMUAAA dan rasanya berbeda dari saat saya kunjungi. Pun pula cafe baru yang baru saja dibuka dan saya kunjungi minggu kemaren, yang waiternya ganteng dan waitressnya manis. Ternyata semalam dikunjungi teman-teman dalam kondisi yang jauh beda dengan  saat saya berkunjung. Saat itu sepi, dan hanya 3 meja terisi. Saya yang reunian dengan mahluk lawas NeoGATS, orang yang pacaran di pojokan, dan yang ngerjain tugas di sebelah saya. So, pasti kan sunyi suasana? Sementara saat mereka datang, 2 kelompok ababil sedang main kartu dengan hebohnya.

Sungguh, jadi engga enak deh sama hasil reviewku 🙁

Juga di review tentang kafe yang terakhir, saya kan berdoa semoga kafe itu ngga dijajah ababil yang nda peduli sama pengunjung lain. Karena itulah yang sering terjadi, saat Illy cafe yang dulu tenang, begitu dijajah ababil yang modal main kartu, ribut tanpa mau lihat pengunjung lainnya, saat itulah nilai cafe jadi turun di mata saya. Seharusnya saya ngga bole nyalahin kafenya ya, tapi ya gituuu..

Di lain pihak pemilik kafe juga ngga bisa berbuat banyak dengan kehadiran pengunjung yang ababil.

Dilema sekali hidup kita ini ya?

*seduh kopi, ngopi2 di teras rumah aja deh*

Sharing after reading, yes?

10 Comments

  • halah sante ae, ga perlu manyun *lempar kodok*

    awalnya ga ada yang nyalahin cafenya (#nomention), tapi kita tanya baik² ke mereka: ‘apa memang biasanya segaduh ini?’. ga nyaman mas.’ pelayannya bilang: ya biasa rame seperti ini. tanpa peduli kalo kita ga nyaman dan 8 orang sudah pasang muka masam :)).

    masam ga hanya krn gaduh, tapi rasa hazelnut jadi paduan susu+santan, apa²an itu :)).

    • untung yg rame itu belom kereview…
      tp yg luamua itu, pas aku ke sana nda selama yg pas sama temen2 sih. jd kecewa sendiri memang..

  • Kasihan juga yah kafenya kalau kalau kedatangan ABABIL norak gitu.

    Saya percaya juga yang punya kafe pasti juga ngga seneng kalo kedatangan type2 gerombolan kaya gitu. Udah pesennya dikit (even air putih lho…OMG) en suaranya bledak2 seruangan gangguin banyak orang,stay’nya jam2an…..

    huH…..aNTI ABABIL NORAKH!!! Pada ngrusak icon kota Malang aja.

    AYo gimana kalau kita menggalang masukan buat kita kasih input ke yang punya kafe cara menghalau ABABil norak2 itu….BERSATU kita teguh menentang ABABIL!!!!

    • wah 😀 ya susah juga.. bagi pemilik kafe, pembeli adalah raja.
      mau gerundel2 kyk apa, tetep ngga bole mengusir mereka.

      ini serba salah sih kondisi kyk gini.
      mestinya bukan salah pengelola kafenya juga.
      mungkin orang2 kita yang uda kehilangan tenggang rasa dengan sesamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *