Archive for May, 2010

May 31st, 2010

Salam Satu Jiwa

Selamat atas kemenangan Arema Indonesia yang telah memenangkan Indonesian Super League 2010. Di tengah isu negatif dan berita miring seputar kemenangan Arema, Arema telah berjuang sampai titik terakhir kompetisi dan membekuk Persija 1-5. What a great goal…

Sejak mengunci kemenangan di pertandingan sebelum lawan Persija kemarin, Aremania yang telah mensupport habis-habisan dengan selalu hadir di pertandingan, bertindak sopan, dan berusaha menjadi yang terbaik di antara supporter lainnya, turun ke jalan mengelu-elukan kemenangan Arema Indonesia. Rencana turun ke jalan ini akan dilakukan sampai piala ISL tanggal 6 Juni 2010 sampai ke Malang.

I can imagine macetnya jalan-jalan kota Malang dengan kemeriahan pawai Aremania dan Aremanita. Ngga papa sih kalo macet aja. Asal ngga anarkis. Semua pemakai jalan di kota Malang adalah warga dan tamu kota Malang. Apapun plat nomor kendaraan mereka, jangan dianggap musuh. Perhatikan status suporter terbaik yang telah disematkan ke Aremania. Jangan hanya di dalam stadion sopan tapi di jalan berantakan. Tunjukkan kedewasaan diri. Tunjukkan Aremania memang yang terbaik.

Jangan sampai tercemar.

Masih ada 7 hari ke depan yang harus dihadapi.

Bersabarlah wahai warga kota Malang….

Salam Satu Jiwa.

“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu,

dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-NYA kepadamu

(QS. Al Hadid:23)”

Bookmark and Share
May 26th, 2010

Son In Law

Calon.. Masih calon kok!!! Sumpah! Jangan bikin gosip yah ^^.

Semakin ke sini semakin ngerasa, ini hunnie kok tamba disayang aja sih sama papaku :( . Ngiri iyalah.. kan aku yg anaknya papaku. Padahal dia ga sering jagongan ke ruma, paling anter jemput doang. Ga sering ngasi ‘upeti’ ke papa buat cemilan. Ga sering telepon ato ngobrol ma orang ruma. Malah seringnya pulang kemaleman klo uda ngajak nonton pertandingan basket.

Tapi memang dia berusaha selalu ada saat di ruma lagi butuh anak cowok. Secara adek-adek cowokku kan sudah ngga di ruma. Untuk angkut-angkut kursi. Untuk masang genteng. Untuk megangin tangga.  Untuk ngepasin antene tv. Untuk berbagi cerita sepak bola. Untuk nemenin papa mancing.

Gimana aku ngga jadi cinta :(

Walo dia ngga bersih mukanya biar uda pake dan berusaha ke Afrika Selatan dengan ikutan Amazing Journeynya. Plus uda ngebantuin aku bikin blog yang ini tentang dia, secara ga sengaja kasih ide untuk bikin daftar tempat azaib di Afrika Selatan, dan bikin penutup untuk rangkaiannya dengan persiapan menuju ke Afrika Selatan itu.

Dia memang selalu jadi inspirasiku.

Teman disaat suka dukaku. Biarpun banyak hal-hal yang jadi ngga sinkron karena memang kita ini dua kepala yang beda, tapi kegigihannya selalu bikin aku tersenyum kembali. Aku senang dia bisa diandalkan oleh orang tuaku. Tempat bermain keponakanku. Juga jadi sampah curhat untuk kakakku.

Belum, kami belum akan melangkah ke sana. Jadi masih banyak rintangan yang mungkin akan kami hadapi ke depan. Masih ribuan tempat wisata yang belum kami jelajahi. Masih beberapa ratus rupiah saja yang kami miliki. Masih berat halangan di depan jalan si dia. Tapi dengan yang sudah kami miliki saat ini, semoga jalan ke sana akan lebih mudah.

Amiin.

Bookmark and Share
May 25th, 2010

Sempu Island 2010

“Lumpur itu menghisap kakimu. dan SEMANGATMU”
-ferdi by someone-

Pepatah itu bolak-balik didengungkan Ferdi saat perjalanan pulang menembus hutan pulau Sempu yang melelahkan. Kaki-kaki anak kota yang berbalut sepatu golf, sepatu fitnes, sepatu hiking dan sepatu PDL menapaki 2 km jalur berlumpur menuju ke peradaban dari dalam Segoro Anakan, Pulau Sempu. Kelelahan itu sedikit menguap saat bertemu Polisi Hutan yang meremehkan dan menghambat trip kami sebelum menyeberang. Congkak setelah bayar 50rb untuk IJIN MASUK HUTAN bolehkan?

Euforia kemenangan itu terasa banget apalagi setelah bertemu rombongan mahasiswa UM yang juga meremehkan kaki-kaki kota kami yang renta dimakan usia, mereka terjebak di tengah rute berlumpur karena persiapan yang kurang. Sandal mereka lenyap digerogoti lumpur yang menghisap kakimu. dan SEMANGATMU. Tak tampak lagi wajah meremehkan mereka saat pertemuan pertama karena saat pulang kami berempat melibas mereka hanya dalam waktu 5 menit sementara mereka sudah jalan 4 jam lamanya.

Bagi yang pengen ke Segoro Anakan di Pulau Sempu dalam waktu dekat selama hujan masih turun, sebaiknya memang berpikir ulang jika kondisi badan dan perlengkapan tidak memadai. Daripada terjebak di tengah hutan, main-main saja ke pantai di sekitar Sendang Biru. Naik perahu menuju laut lepas. Tapi jangan masuk ke hutan. Karcis untuk kami berempat plus mobil 24rb. Nyebrang ke Sempu 100,000. Dan yang terasa mahal jadi ijin polisi hutan menyebalkan itu. Kalau fasilitas ke dalam kalian perbaiki ok lah bayar untuk ijinnya, tapi jalan itu ngga berubah setelah 10 tahun yang lalu kami ke sana. Sama sekali ngga berubah. Tidak ada jalur pengaman untuk berpegangan di jalan turun. Tidak ada pengarah jalan. Bahkan dermaga untuk menurunkan di titik muat pun ngga ada. Jadi untuk apa masuk ke sana bayar? Untuk 10 tahun yang tidak ada perubahan????

Emosi.

Jadi, yang perlu disiapkan :

1. kaki yang kuat

2. badan yang sudah diisi energi

3. berbotol2 minum

4. sepatu yang kuat

5. doa

dan siap2lah foto ya. seperti ini dan ini

Bookmark and Share
May 22nd, 2010

Malang Tempo Doeloe V

Hello… I just back to the future..

Menyusuri sepanjang Jalan Ijen untuk menikmati suasana Malang Tempo Doeloe. Menyiksa kaki menginjak tai kuda yang berceceran dari kuda-kuda para dokar. Berdempet-dempetan dengan ribuan orang lainnya yang sama-sama mau menempo dulu.

Sore kemarin sebenernya janjian sama temen-temen kantor untuk menempo dulu. Berpesta kostum jadul dengan kebaya encim dan sewek lusuh. Tapi karena suatu dan lain hal, aku berangkat duluan. Kehujanan di jalan. Milih parkir di Malang Olimpic Garden karena harus ke pusat atm dan samsat corner. Sepanjang jalan Semeru dan jalan Kawi, kendaraan sudah padat sangat merayap. Itu baru dari satu sisi untuk masuk ke area Malang Tempo Doeloe. Karena masih hujan juga sementara kostum tidak dipakai, disembunyikan di balik jaket.

Dingin pertama kurasa.

Dan selanjutnya sumuk meraja.

read more »

Bookmark and Share