My Life My Adventure

Almost 30 years i live in this world. Waktu yang sangat panjang dengan lika liku hidupku yang ga mulus-mulus aja. Selalu ada kerikil dan batu segede gunung yang harus kuhadapi untuk mengerti susahnya mengisi hidup ini.

Sedari kecil terpisah dari orang tua, means ga selalu hidup seatap sama ortu, walo kadang ya seatap, dan justru malah uda segede ini malah seatap bukannya aku mencari kehidupanku sendiri. Pas sekolah TK mpe SD di Madiun. SMP SMA n kulia di Malang. Sering pulkam ke Jogja. Bikin aku kehilangan jati diri, aseli mana daku ini. Pede aja bilang asli jogja walo ga bisa bahasa jawa. Masa SD yang berganti sekolah dari kota ke pelosok desa ngga bikin aku merasa jadi orang kota. Menikmati sekolah tanpa listrik. Sekolah yang ga punya kamar mandi. Pun sekolah yang punya banyak sudut untuk dijelajahi. Manjat pohon. Maen sepakbola. Ngumpet di kaki gunung. Nyolong buah punya orang.

Dilanjut dengan SMP di kota. Merasa jadi orang teraneh sedunia. Dan nyari petualangan bersama temen-temen dari STM. Di SMA mulai mendapatkan jati diri. Ikut kegiatan sana sini. Dengan kompensasi di rumah jarang sekali. Kuliah? Yaelah, masa-masa kuliah aku malah jadi anak baik tau. Jadi anak rumahan. Ngga ikut kegiatan sama sekali di kampus. Malah aktif di kegiatan otomotif di klub tiger. Serasa mendapat dunia baru selain dunia di petualangan alam. Selepas kuliah dan kerja di tempat yang temen2nya so cool bikin aku dapet banyak kegiatan baru lagi. Nongkrong dan ngopi-ngopi. Rasanya ngga ada yang aneh. Normal. Sampe aku pun sadar aku ngga kecil lagi.

Aku tau the clock is clicking. Calling me to get a new life. A new life with husband and children. Aku sudah punya sandaran hati. Tempat aku semakin menikmati hidup ini. Hanya memang aku belum diberi kesempatan untuk melanjutkan langkah bersama dia di kemudian hari. Pilihanku adalah resikoku. Dengan dia yang masi kuliah tapi bisa mengaturku. Menghadapiku yang penuh kerumitan dan banyak mau. Orang boleh berkata, kuliah ngga ngehalangin untuk nikah kan? Tapi itulah yang kami hadapi bersama. Di tengah galau hati untuk mengikuti apa kata orang di luar sana, di luar kami berdua. Kami saling menguatkan, juga dikuatkan oleh teman-teman yang mau mengerti beratnya tantangan di depan kami. Bukan dikuatkan oleh keluarga kami. Keluargaku hanya mau tau usiaku HARUS sudah menikah. Keluarga dia hanya mau tau dia HARUS menyelesaikan kuliah.

Ini petualangan baru bagiku, juga bagi dia. Petualangan menghadapi hidup. Bukan lagi petualangan di alam dan di jalanan.

Semoga pilihan kami berdua bukan merupakan kesalahan. Kami berdoa pilihan kami adalah jalan yang ditunjuk oleh-Nya.

Sharing after reading, yes?

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *