World Domination

Kota Malang lagi diserbu sama aneka ria cafe dan warung hot-spotan. Euforia ini tentu bikin seneng produsen letop yang semakin menginvasi kebutuhan primer generasi muda sekarang. Ga pake letop ga gaul gitu kesannya klo lagi ke cafe yang wifi-an. Belom lagi kecanduan facebook yang bikin ke mana2 harus update status dan kudu nungguin masa panen klo maen farmville, aku belum coba mafia wars. Nda pengen kecanduan juga.

Cafe dan warung hot spotan itu macem-macem alirannya, dari yang minimalis sampe super keren. Aku ga gitu gaul sih, jadi jarang-jarang merambah cafe begituan. Klo lagi ada acara ngumpul aja biasanya ngikut maunya temen-temen. Yang di Matos, dulu sering ke situ karena dulu undangan sponsor banyak diadakan di situ. Semenjak ngeliat sekumpulan lesbi yang memandangku dengan aneh, aku mundur teratur dan ga perna berkunjung lagi ke situ. Cafe with pool di pusat kota perna juga jadi tempat langganan karena mereka menyediakan diskon untuk kami sebagai member club motor. Mulai dari ketemu pria berbadan gede tapi menggandeng pria lain, jadi segen maen ke situ, plus member cardnya expired. hehehe.

So far, seneng ke cafe di depan unmuh yang tenang, dan punya kursi gede-gede yang nyaman. Tapi karena sibuk dan milih jalan2 aja ke pantai dan ke gunung, cafe semakin terlupakan. Baru-baru ini aja kepengen ke cafe baru di daerah sukarno hatta yg sering muncul di status seorang teman. Tempatnya cozy banget! Rame sih soalnya waktu ke sana pas malem minggu. Dan yang dateng juga tampak plural secara rame-rame rombongan jadi males merhatiin orang banyak. Dark Chocolatenya yummy banget! Nagih dah! Tom Yamnya juga mantafff..

BukBer sama temen2 klub lawas kemarin ngulang lagi di situ. Sebelum meluncur sudah diingatkan sama the most gaulers temen yang bilang klo di situ tuh tempatnya aliran nda jelas. Bukan aliran kepercayaan tapi aliran pergaulan yg abnormal. Ah masa sih, aku ngga percaya kok. Trus meluncurlah kita bukber di situ. Sepi, enak banget untuk bercanda. Dan kemudian datanglah cowok yang ternyata cewek karena potong pendek saking gagahnya jalan. Lanjut temennya dateng cowok yang tampak cewek saking melambainya. Dan ditemani lagi sama seorang cewek yang ga kalah gagahnya. Temenku bilang, itu masih cuman segitu aja. Yang lebi parah banyak.

Wink. Mulai merasa ga nyaman.

Ya, jujur aku risih dengan mereka. Aku ga menafikkan kehadiran mereka sebagai fenomena gender di dunia ini. Mereka hadir dan eksis karena semakin banyak contoh yang muncul di tayangan tv. Seperti mode pakaian, mode transgender rupanya juga diikuti sama orang-orang pengikutnya. Keberadaan mereka sudah ngga beda seperti jamur di musim ujan. Jumlahnya pun ga sedikit lagi sekarang. Mungkin karena tidak dilegalkan di Indonesia makanya banyak yang underground. Kamuflase dengan menikahi lain jenis juga banyak dilakukan, tapi orientasinya masih ke yang sesama jenis. Seperti kasus termehek-mehek yang pas pernah aku tonton. Miris dengan kondisi seperti ini.

Hanya satu pertanyaanku, emang klo sesama gitu rasanya gimana ya? Suka seperti kita suka pacar? Sayang? Cinta? Posesif? Setia?

~berdiri bulu kudukku dan semoga ga ada yg tersinggung dengan sekedar pikiranku ini~

Sharing after reading, yes?

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *